Bayangan Masa Lalu

By: Fryda Aninditya

                                                           

Kenalin, namaku adalah Sheila. Aku ingin bercerita tentang kehidupanku yang berwarna-warni ini. Kalian pernah gak sih merasakan yang Namanya kesedihan? Atau mungkin kekecewaan kepada seseorang? Aku rasa pasti semua orang pernah merasakan yang namanya kesedihan maupun kekecewaan. Nah dalam ceritaku kali ini aku ingin bercerita tentang kesedihan yang hampir saja aku alami, tapi untungnya Tuhan berkehendak baik kepadaku. Ada kalanya seseorang merasakan kesedihan dan kekecewaan, tetapi di setiap kesedihan dan kekecewaan itu pasti ada jalan dan ganti yang lebih baik

Aku pernah hampir mengalami kesedihan. Aku pernah hampir saja kehilangan seseorang yang aku kagumi. Yang bahkan aku saja belum sempat mengatakan kepadanya bahwa aku mengaguminya.

Aku dulu adalah seorang gadis yang ceria dan penuh tawa. Aku selalu di kelilingi orang-orang yang baik di sekitarku.  Aku selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada-ku. Aku selalu diberi kasih sayang oleh keluargaku, selalu mendapat perhatian yang cukup dari kedua orang tuaku. Bisa dibilang aku dulunya adalah anak yang beruntung yang selalu diperjuangkan oleh keluargaku, ya walaupun sampai sekarang juga masih sama sih, hehe.

Syukurnya aku diberi kesempatan oleh Tuhan bisa memiliki keluarga yang menjadi support system terdepan disaat keadaanku terpuruk. Sini-sini aku ceritain betapa berwarna-warninya hidupku. Dulu banyak orang mengagumi dan tertarik kepadaku, tetapi aku mengecewakan perasaan mereka karena aku tidak bisa membalas perasaan mereka. Sebenarnya bukan karena apa-apa sih, tetapi karena saat itu aku juga sedang mengagumi seseorang secara diam-diam. Coba deh kalian tebak, memangnya seperti apa sih kepribadian orang itu? sampai-sampai aku menolak banyak orang demi orang itu. Ayo simak terus ceritaku ya!

Jadi gini-gini. Menurutku dia adalah orang yang pertama kali membuat aku tertarik kepadanya. Dia adalah orang yang kepribadiannya periang, hampir sama seperti aku, tapi nggak juga sih, hehe. Sebenernya bener sih kalo dia itu periang dan jarang sekali terlihat murung. Dia akan kelihatan cuek kepada orang yang membuatnya kurang nyaman dan juga kepada orang yang tidak dekat dengannya. Menurutku itu adalah sekilas fakta menarik tentang dia, hehehe.

Aku masih ingat saat pertama kali masuk kelas 7. Seragam baru, rambut dicepol rapi, dan rasa canggung yang tak bisa disembunyikan. Aku bukan tipe anak yang menonjol, aku lebih senang menyendiri, duduk di belakang, dan menonton dunia dari jauh. Lalu ada dia.

Duduk di barisan tengah, dikelilingi tawa teman-temannya. Sejak hari pertama, sudah bisa membuat seisi kelas tertawa hanya karena satu candaan sederhana. Dia bukan anak populer, tapi kehadirannya selalu terasa. Humoris, santai, dan ceria.

Tapi juga cuek. Terutama jika ada orang yang terlalu mendekat tanpa benar-benar dikenal. Kadang terlihat dingin, kadang sengaja menghindar dari orang-orang yang membuatnya tak nyaman.

Itulah yang membuatku makin memperhatikannya. Tanpa sadar, pandanganku sering mencari di mana posisinya. Bahkan saat guru menerangkan pelajaran, aku sering kehilangan fokus karena mendengar suara tawanya yang tiba-tiba meledak.

Aku tidak pernah benar-benar bicara dengan dia. Mungkin hanya beberapa kata saat kerja kelompok atau berdiri berdekatan waktu upacara. Tapi selebihnya, aku hanya menjadi penonton diam. Dan jujur saja, aku menikmati posisi itu. Mengagumi dari jauh.

Ada satu kebiasaan yang selalu kulakukan di masa SMP yaitu menulis. Bukan puisi, bukan cerita. Tapi catatan kecil tentang hari-hariku tentang pelajaran, teman sekelas, dan tentu saja tentang dia.

Aku menuliskan cara tertawanya yang khas, mimik wajahnya saat sedang bingung, dan komentar konyolnya saat pelajaran IPS membuat semua orang ingin tidur. Semua tertulis rapi, seolah menjadi jurnal rahasia yang hanya bisa kubaca sendiri.

Ada kalanya aku ingin menyapanya. Tapi setiap kali kesempatan itu datang, aku seperti kehilangan suara. Ketakutan paling besarku adalah jika dia tahu dan justru menjauhiku. Karena aku tahu satu hal, dia tidak menyukai orang yang terlalu terang-terangan mendekat. Dan aku tak ingin menjadi orang yang membuatnya merasa tidak nyaman. Maka aku memilih jalan yang paling aman ya tentu saja itu adalah diam.

Jujur awalnya aku tidak berharap banyak kepadanya. Karena apa? Karena kata orang berharap kepada manusia adalah salah satu seni untuk menyakiti diri sendiri. Dan aku tidak ingin diriku tersakiti hanya karena berharap kepada manusia yang bukan ditakdirkan untukku. Karena bisa saja dia memang bukan ditakdirkan untukku. Berjaga-jaga aja sebelum itu benar terjadi, ahahahaha. Sebenernya bukan cuman itu aja sih alasannya, tapi ada alasan lain yaitu karena aku memang sedari awal hanya berniat mengagumi bukan memiliki. Tapi kalaupun memang ternyata dia sudah dimiliki orang lain selain aku, aku juga harus bisa belajar mengikhlaskannya. Karena apa? Karena titik tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan dia Bersama pilihannya, hehehe.

Dari banyaknya teman-teman ku dan walaupun aku sangat terbuka kepada mereka jujur saat aku sedang mengaguminya satu dari temanku saja tidak ada yang tau. Bukan karena aku jahat atau egois tapi karena aku malu dan takut, kalau apa yang aku ceritakan kepada mereka nantinya akan sampai ke telinga teman-temanku yang lain, apalagi kalau sampai  ke telinga dia, aduh mau di taruh dimana coba muka aku, huhuhu.

Sebenernya aku setiap berpapasan sama dia selalu menyimpan dan memendam rasa malu dan juga gugup. Bahkan terkadang wajahku terlihat merona saat setelah aku dan dia berpapasan atau bahkan bertemu dengan tidak sengaja.

Tiga tahun berlalu seperti angin. Kami sekelas sejak kelas 7 sampai 9. Selalu melihatnya setiap hari, meskipun hanya sebagai bayangan yang diam-diam mengagumi.

Waktu kelulusan datang. Foto bersama, air mata perpisahan, coretan di seragam. Tapi tidak ada satu pun momen antara aku dan dia. Tidak ada foto bersama, tidak ada saling tukar pesan, bahkan tidak ada pelukan perpisahan.

Hanya satu tatapan singkat di halaman sekolah. Mungkin hanya kebetulan. Tapi aku masih mengingatnya hingga kini. Setelah itu, kami berpisah. Aku melanjutkan sekolah di kota lain. Dia pun begitu. Tidak pernah ada kabar. Tidak saling follow, tidak saling cari. Aku mencoba fokus pada masa depan, walau sesekali bayangan tentangnya muncul di mimpi.

 Lucu, ya? Mengagumi seseorang selama bertahun-tahun, tapi tidak pernah benar-benar dekat. Hanya bayangan. Tapi bayangan itu tertanam begitu dalam.

Tetapi pada suatu hari setelah beberpa tahun berlalu tepatnya 5 tahun setelah lama kami berpisah Hari itu, aku duduk sendirian di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Membaca, seperti biasa. Hujan turun pelan-pelan di luar jendela, menyisakan aroma tanah basah yang entah kenapa membuatku merasa sendu.

Lalu tiba-tiba telingaku mendengar sepatah kata yang memanggilku dan bahkan aku masih mengingat siapa orang dibalik suara itu. Dan iya benar itu adalah dia, orang yang aku kagumi dimasa SMP bahkan sampai detik ini.

“Eh... kamu...” Aku menoleh. Dunia seperti berhenti sejenak.

Itu dia. Sudah lebih dewasa, lebih tinggi, dan rambutnya lebih rapi. Tapi senyum khasnya tidak berubah. Ceria, santai, dan tetap membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku hanya mampu tersenyum kaku dan hanya mampu bertanya

“Kamu... ingat aku?”

“Tentu. Kita sekelas dulu kan? Kamu yang selalu duduk di belakang, iya nggak?”

Aku nyaris ingin tertawa. Jadi dia ingat. Kami duduk dan mengobrol lama. Dan dari pertemuan itulah, semuanya kembali mengalir.

Pertemuan itu ternyata bukan yang terakhir. Setelahnya, kami saling bertukar kabar. Saling bertanya, lalu saling mencari. Aku mengenalnya lagi kali ini bukan dari catatan atau pandangan diam, tapi dari cerita yang keluar dari mulutnya sendiri. Sifat cerianya masih ada. Leluconnya masih segar. Tapi kini, dia juga lebih dewasa. Bisa bicara tentang rasa takut, tentang cita-cita, bahkan tentang kehilangan.

Dan dia pun mulai mengenalku bukan lagi si gadis pendiam yang hanya menatapnya dari bangku belakang. Tapi seseorang yang kini duduk di hadapannya, berbagi cerita dan tawa.

“Dulu kamu nggak pernah ngomong sama aku ya?” katanya suatu hari sambil tersenyum. Aku hanya tertawa kecil.

 “Nggak berani. Kamu terlalu ramai.”

Terlalu ramai untuk didekati oleh orang yang terlalu sunyi seperti aku. Dia tertawa.

 “Lucu ya. Aku kira dulu kamu nggak suka aku.”

Aku menatapnya, lalu berkata pelan, “Padahal aku memperhatikanmu setiap hari.”

            Sejak pertemuan itu, semuanya terasa... aneh, tapi hangat.  Kami mulai sering bertukar pesan. Awalnya hanya sapaan singkat, bertanya kabar, atau saling bercanda soal masa SMP dulu. Tapi lama-lama, obrolan kami menjadi tempat pulang, bahkan ketika hari melelahkan dan malam terasa terlalu sunyi.

 

Ada hal-hal yang hanya bisa kutemukan dalam dirinya. Dia masih suka bercanda, kadang garing, kadang lucu setengah mati. Tapi dia juga tahu kapan harus serius, kapan harus diam, dan kapan harus mendengarkan tanpa menghakimi. Yang paling membuatku takjub, dia bisa membuatku merasa dilihat.

Selama bertahun-tahun, aku hanya mengaguminya diam-diam. Tapi sekarang, dia mulai memperhatikanku. Menanyakan bagaimana hariku. Mengingat hal kecil yang kuceritakan di minggu lalu. Menjawab pesanku dengan emoticon khasnya yang dulu hanya bisa kulihat dari jauh.

Kadang aku berpikir, mungkin ini hanya nostalgia. Mungkin aku hanya senang karena akhirnya bisa dekat dengan seseorang yang pernah begitu lama menghuni dipikiranku. Tapi ternyata tidak. Rasaku tidak memudar. Justru makin nyata. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa mungkin aku tidak sendirian.

            Pada suatu malam yang hujannya deras, kami bertemu lagi. Duduk di kafe kecil yang sudah jadi tempat kami bercerita banyak hal. Dia menatap ke luar jendela, lalu menoleh padaku sambil tersenyum tipis.

“Aku nggak tahu kenapa ya, tapi setiap ngobrol sama kamu, rasanya tenang.”

Aku tidak langsung menjawab. Karena dadaku penuh. Penuh rasa yang sulit ditata.

“Aku juga,” jawabku akhirnya, pelan.

Lalu dia tertawa kecil.

 “Padahal dulu aku pikir kamu benci aku. Kamu nggak pernah ngomong, nggak pernah ikut ketawa. Cuma diem aja di belakang.”

Aku tersenyum.

 “Aku cuma terlalu kagum. Dan takut.”

Dia menatapku lama.

“Kagum?”

Aku mengangguk.

 “Dulu aku selalu memperhatikan kamu. Tapi nggak pernah berani ngomong. Aku tahu kamu cuek kalau orang terlalu maksa, jadi aku cuma... mengagumi kamu dari jauh.”

Dia tertawa. Tapi bukan tawa mengejek. Lebih seperti tawa yang, bahagia.

“Serius?” katanya.

Aku menunduk malu. Tapi diamku sudah bukan lagi bentuk sembunyi. Kali ini aku berani untuk jujur.

            Hari-hari setelahnya berubah. Obrolan kami jadi lebih hangat. Ada kalimat-kalimat manis yang mulai muncul perlahan. Perhatian-perhatian kecil yang tak pernah kuduga akan datang dari orang yang dulu hanya bisa kulihat dari barisan bangku tengah. Sampai suatu hari, saat kami berjalan berdua pulang dari sebuah acara reuni kecil, dia menghentikan langkah.

“Kalau dulu aku lebih peka, mungkin aku sudah suka kamu dari SMP,” katanya.

Aku menatapnya, menahan napas.

“Tapi mungkin memang harus nunggu sekarang. Karena kalau bukan sekarang, kita mungkin nggak akan sama-sama siap.”

Aku tersenyum.

“Dulu kamu cuma bayangan,” bisikku.

“Sekarang aku mau jadi nyata,” jawabnya.

Hubungan kami tidak langsung jadi kisah cinta seperti di film. Tidak ada adegan tembak-menembak yang dramatis. Tapi semua berjalan dengan perlahan dan alami. Perhatian berubah jadi rindu. Rindu berubah jadi sayang.

Dan sekarang, bertahun-tahun setelah pertemuan pertama itu, aku duduk di bangku taman kota. Menunggu seseorang yang dulunya hanya bisa kulihat dari jauh. Dia datang, masih dengan senyum ceria, dengan lelucon yang membuatku tertawa kecil, dan dengan tatapan hangat yang dulu tidak pernah kuterima.

Kini dia bukan lagi bayangan masa lalu. Tapi bagian nyata dari hari-hariku. Dan saat dia menggenggam tanganku hari itu, aku tahu. Aku memang jatuh cinta sejak lama. Tapi takdir memilih waktu yang paling tepat untuk menyatukan kami.

Suatu sore, saat duduk bersamanya di bangku taman kota, kami mulai membahas masa lalu. Bukan yang pahit. Tapi yang lucu dan hangat.

“Aku masih ingat banget waktu kamu dilempar penghapus sama guru matematika,” ucapku sambil tertawa kecil.

“Lah, kamu masih inget?” sahutnya sambil terkekeh. “Itu kan karena aku ketawa-tawa sendiri. Padahal aku cuma nulis lagu di buku catatan.”

“Kamu nyanyi pelan-pelan, tapi keras buat orang sekitar,” jawabku sambil tersenyum.

Dia mengangguk, matanya berbinar.

“Aku juga masih ingat kamu dulu sering nulis pakai pena warna-warni. Meja kamu penuh stiker. Tapi kamu nggak pernah ngajak ngobrol siapa pun kecuali diminta.”

Aku menghela napas.

“Dulu aku terlalu takut. Kamu itu... terlalu bersinar.”

Dia menatapku sebentar, lalu tertawa pelan.

“Dan aku kira kamu nggak suka aku. Padahal kamu ngamatin aku tiap hari.”

“Aku bisa nyeritain ulang semua tingkah anehmu satu per satu kalau kamu mau,” candaku.

“Lanjut,” katanya serius tapi tersenyum. “Aku mau dengar.”

Beberapa minggu kemudian, aku membuka laci tua di kamar dan menemukan buku harian lamaku. Sampulnya sudah usang. Di dalamnya, banyak coretan dan tulisan tentang dia.

Dan di halaman paling belakang ada satu surat. Masih terlipat rapi. Surat yang kutulis saat SMP. Yang tak pernah terkirim. Aku membacanya ulang. Tulisan tanganku sendiri membuat dadaku hangat dan geli bersamaan. Tanpa banyak pikir, aku memotret surat itu dan mengirimnya lewat pesan. Tak lama kemudian, balasannya datang:

"Aku baca ini sambil senyum-senyum sendiri. Kamu tahu nggak? Ini surat cinta terindah yang pernah aku terima... meskipun 8 tahun terlambat."

Aku hanya membalas dengan emoji malu

"Tapi nggak apa-apa,” lanjutnya. “Terlambat lebih baik daripada nggak sama sekali, kan?”

Dan aku tahu, akhirnya surat itu sampai juga. Di waktu yang tepat. Sekarang, kami tidak lagi hidup di bayangan. Aku tidak lagi duduk di belakang mengamatinya dari jauh. Kami berjalan berdampingan, dalam kehidupan yang nyata, bukan dalam imajinasi.

Setiap kali tertawa bersama, rasanya seperti mengulang tawa-tawa lama yang dulu hanya bisa kudengar dari bangku belakang. Setiap kali dia memanggil namaku, rasanya seperti membayar semua detik yang dulu hanya bisa kuisi dengan menunduk dan mencuri pandang. Dan setiap kali kami bicara soal masa depan, aku tahu... ini semua tidak sia-sia.

Mengagumi seseorang diam-diam bukan hal sia-sia, jika takdir memilih untuk mempertemukan kembali di waktu yang lebih matang. Karena cinta yang tumbuh dalam diam, kadang tidak hilang hanya menunggu waktu untuk berkembang.

Jika kamu tanya padaku hari ini,

 “Apa kamu menyesal pernah diam saja selama itu?”

Aku akan jawab, tidak.

Karena dari diamku, aku belajar tentang kesabaran. Dari diamku, aku belajar mengendalikan rasa. Dan dari diamku, aku bisa menghargai waktu saat akhirnya takdir berpihak padaku. Dia yang dulu hanya bisa kulihat dari kejauhan, kini duduk di sebelahku. Tertawa bersama, menggenggam tanganku, dan berkata:

“Mungkin kita memang nggak ditakdirkan untuk bersama di awal, tapi selalu   dituntun untuk saling menemukan di akhir.”

 

Comments

Popular posts from this blog

Garden from Heaven

Inginku